Tren dan Perubahan Nilai Sepeda dalam Industri Budaya
Bersepeda, entah sebagai bentuk olahraga, hobi, sarana transportasi, atau gaya hidup, dapat dikatakan sebagai kegiatan yang cukup populer bagi masyarakat di seluruh dunia sejak awal perkembangannya pada abad ke-19.
Mulai dari sepeda dengan teknologi sederhana hingga sepeda berteknologi canggih dengan harga hingga ratusan juta telah menjadi komoditas transportasi yang diproduksi secara massal.
Kepopuleran alat transportasi ramah lingkungan ini mulai meroket sejak pandemi Covid-19. Tren bersepeda saat ini (khususnya bagi masyarakat urban) tak lepas dari beredar luasnya narasi mengenai gaya hidup sehat (salah satunya tentu dengan bersepeda) untuk mencegah penularan virus korona. Dampak dari tren tersebut yang dapat langsung terlihat adalah saat ini kita dapat dengan mudah pesepeda di jalan-jalan perkotaan. Juga, meningkatnya harga sepeda secara drastis sebagai jawaban atas tingginya permintaan terhadap produk sepeda yang juga drastis.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) menjelaskan bahwa kegiatan bersepeda menjadi budaya baru di masyarakat perkotaan, seperti Jakarta yang tren kenaikannya mencapai 1000% atau 10 kali lipat dari biasanya (sepeda gunung). Kenaikan tren bersepeda ini tidak hanya terjadi di Indonesia, beberapa negara lainnya seperti Bogota, Paris, Meksiko, dan Filipina juga mengalami hal yang sama. Bahkan mereka membuat jalur-jalur pesepeda sementara (pop up bike line) (Membangun, Pejalan, & Kota, 2020).
Hal serupa juga terjadi di Inggris dan Amerika. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Global Web Index (GWI) pada bulan Maret 2020, terjadi perubahan pola transportasi masyarakat di Inggris dan Amerika, baik di kalangan milenial dan Gen X. Hal ini disebabkan karena masyarakat mencoba menghindari keramaian akibat khawatir akan penularan Covid-19 yang terjadi di sekitarnya.
Tren bersepeda yang “meledak” ini dapat dikaitkan dengan teori industri budaya yang dicetuskan oleh Theodor W. Adorno. Adorno awalnya menggunakan istilah industri budaya (culture industry) untuk membedakannya dengan budaya massa (mass culture), yang dipahami sebagai budaya yang timbul secara spontan di dalam masyarakat.
Media massa, sebagai alat komunikasi untuk menjangkau konsumen dalam jumlah besar, berperan penting dalam mengendalikan konsumen sebagai objek komersial. Dalam kasus ini, media massa jelas memberi pengaruh yang signifikan terhadap meningkatnya tren bersepeda di tengah pandemi Covid-19. Dari mulai narasi di media massa yang menyuarakan gaya hidup sehat untuk mencegah penyebaran virus korona baru hingga iklan sepeda dalam berbagai bentuk.
Motif pembelian sepeda dapat dikategorikan setidaknya menjadi dua, pertama, membeli karena melihat kualitasnya dan memang untuk memenuhi kebutuhannya. Kedua, membeli karena ingin memiliki barang yang sama dengan yang dimiliki orang lain, tanpa mempedulikan mutunya, dan meski sebetulnya tidak memiliki kebutuhan apa pun untuk membeli produk tersebut.
Dalam industri budaya, kualitas, karakteristik, dan fungsi dari produk yang diiklankan tidak lagi diperhatikan oleh konsumen, sebagaimana dikutip dari Matatimoer.or.id. Suatu produk dibeli oleh konsumen bukan karena mutunya memang baik, namun hanya karena iklan yang dilihat begitu impresif dan menyentuh. Artinya, yang sebetulnya dibeli oleh konsumen adalah citra yang diiklankan, bukan produknya.
Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan nilai dari suatu komoditas, bahwa sepeda tidak lagi hanya menjadi alat untuk olahraga dan/atau transportasi, namun juga menjadi status sosial serta bentuk validasi. Untuk mengikuti gaya hidup masyarakat lain yang membuat masyarakat berlomba membeli segala jenis sepeda mampu menggeser nilai fungsi utama dari sepeda itu sendiri.
Berbicara mengenai citra, sepeda sebagai citra individu tidak baru-baru ini terbentuk. Nyatanya, sepeda telah menjadi pembeda golongan sejak zaman kolonial Belanda. Dalam bukunya, Melihat Indonesia dari Sepeda, Ahmad Arif menyebut bahwa sepeda pada awal kedatangannya di Indonesia identik dengan tunggangan para priayi serta kalangan elite yang terpandang secara ekonomi. Hal tersebut tidak lepas dari harga sepeda yang waktu itu sangat mahal, yakni setara dengan 1 ons (28,35 gram) emas atau seharga Rp19 juta saat ini, sebagaimana dilansir dari Historia.id.
Tren bersepeda di saat pandemi ini mendorong pergeseran nilai fungsi sepeda itu sendiri. Jika dilhat dari sejarah keberadaannya, sepeda merupakan alat transportasi yang dipakai oleh pegawai kolonial Belanda. Setelah itu, sepeda terus menyebar sehingga para priayi dan bangsawan pun menggunakannya sebagai alat transportasi.
Pergeseran fungsi sepeda pun yang awalnya sebagai alat transportasi saja kemudian beralih sebagai sarana menjaga kebugaran tubuh. Buktinya, masyarakat semakin banyak yang hobi bersepeda dengan alasan untuk menjaga kebugaran tubuh.
Terdapat pula pergeseran fungsi baru dari sepeda yakni sebagai sarana hiburan atau hobi. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya anak-anak yang membeli sepeda sebagai pemenuh kebutuhan mereka dalam bermain.
Dalam teori industri budaya Theodor, sebuah industri budaya membutuhkan tindakan kreatif untuk mendatangkan keuntungan. Kemudian banyak pula bermunculan modifikasi atau proses pengerjaan kreatif yang dilakukan terhadap sepeda. Selama pandemi ini, muncul fenomena salon sepeda.
Bisnis salon sepeda memanfaatkan tangan kreatif pekerja dalam menarik perhatian pesepeda. Salon sepeda menyediakan jasa cuci sepeda, waterless wax, cuci coating, stel sepeda, hingga perawatan nano ceramic coating. Pegiat bisnis salon ini memanfaatkan kreativitas yang merupakan seni tangan sebagai penarik minat pelanggan.
Saat ini pun, pandangan para bikers terhadap sepeda pun sudah bergeser dan menjadikan sepeda sebagai barang yang bisa dipamerkan. Hal ini kemudian merujuk kembali pada pandangan fetisisme komoditas, di mana pelanggan atau pesepeda sudah memuja harga daripada nilai guna. Fetisisme komoditas sepeda mendorong masyarakat semakin bersikap kapitalis. Hal tersebut menjadi keuntungan besar bagi perusahaan sepeda.
Tren bersepeda ini bisa saja disangkal sebagai ajang olahraga saja namun juga sosial. Dengan adanya persaingan antar pesepeda dalam menunjukkan kualitas sepedanya, fenomena ini bisa disebut sebagai ajang panjat sosial. Nilai guna sebagai kendaraan, gaya hidup, dan kesehatan kemudian disandingkan dengan nilai sosial.
Kelas sosial atau ekonomi seseorang hari ini bisa dilihat dari jenis sepeda yang dimiliki. Bersepeda saat pandemi ini mereka anggap sebagai hal keren yang bisa ditunjukkan kepada orang lain. Akan tetapi, roda perputaran nilai fungsi sepeda ini memang jelas terlihat dan dirasakan pada masa pandemi ini. [*]
source https://ayobandung.com/read/2021/08/04/259645/tren-dan-perubahan-nilai-sepeda-dalam-industri-budaya




Tidak ada komentar:
Posting Komentar