Pemerintah Tidak Serius Menanggapi Pegasus Spyware

Pernyataan larangan untuk Jokowi dan pejabat soal jangan menggunakan WhatsApp karena menjadi pintu Pegasus menjadi kontroversial.

Padahal, kenyataannya, whatsapp menjadi salah satu pintu masuknya spyware di antara pintu lainnya. Website yang cloning-an tidak disinggung sama sekali padahal banyak situs kloningan yang belum terhapuskan atau ditindak lanjuti.

Adanya UU ITE dan "Satgas Siber", kurang efektif untuk menghalau spyware, pegasus, atau ransomware, khususnya menghalau pencurian data.

Ravio Patra seorang aktivis yang difitnah sebagai penggerak massa Antivaksin menjadi bulan-bulanan hacker dan target pencurian data. Kasusnya mencuat dan menjadi pertanyaan besar terkait salah tangkap yang dilakukan aparat negara.

Sukses melanggengkan pelaku peretasan ponsel sebenarnya akan menjadi penghargaan tersendiri bagi kasus pencurian data di Indonesia. Kemudian, kasus penjualan data BPJS juga tidak ada tindak lebih lanjut.

Jangan sampai Spyware Pegasus tetap melanggengkan aksinya tanpa penanganan lebih lanjut.

Artikel "FIGHTING TARGETED MALWARE IN THE MOBILE ECOSYSTEM" karya Megan Ruthven Andrew Blaich bisa menjadi panduan kita untuk menghalau Spyware Pegasus.

Intinya, artikel tersebut menjelaskan penggunaan data untuk memasuki kegiatan yang tersembunyi sangat efektif untuk menemukan aplikasi yang memata-matai kita.

Kedua,  Chrysaor atau versi lain dari pegasus terproteksi dari aplikasi mata-mata lainnya.

Ketiga, tetap mematikan "unknown sources" pada smartphone saat tidak menggunakan atau sedang menggunakan smartphone.

Terakhir, artikel karya Teguh Aprianto https://teguh.co/cara-mandiri-memeriksa-apakah-hp-kamu-terinfeksi-pegasus-spyware/ dapat membantu kita memeriksa infeksi Spyware Pegasus. [*]



source https://ayobandung.com/read/2021/08/05/260001/pemerintah-tidak-serius-menanggapi-pegasus-spyware

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *